Pengamatan mengenai pengemis
Di hari saya mengikuti rapat dengan mahasiswa lain di depan AAC
dayan dawood saya menjumpai seorang pengemis yang menghampiri kami ketika kami
sedang mengadakan rapat tersebut.
Pengemis itu seorang laki-laki tua yang umurnya sekitar 50-an
dengan membawa kertas seperti mirip proposal bisa di bilang seperti itu,
menengadahkan kertas tersebut kepada kami tanpa mengucapkan kata-kata atau
penjelasan.
Kemudian baju yang dia kenakan waktu itu hanya kemeja lusuh tidak begitu rapi dan bersih, keadaan fisik
dari pengemis itu juga masih normal dan terlihat sehat hanya usia saja sudah
tua dan memprihatinkan.
Tapi juga tidak sepatutnya ia selalu meminta-minta disitu setiap
kami mengadakan rapat. Dan anehnya cara dia meminta uang juga sedikit memaksa
untuk meminta lebih, jika kami yang rapat berjumlah ramai atau ada beberapa
orang, dan kami biasanya tidak begitu mempedulikan jika pengemis datang dan
meminta-minta. Tetapi pengemis ini jika tidak di beri uang dia tidak akan pergi
dan memasang muka marah sambil ngomel-ngomel. Dan juga jika di beri uang seribu
rupiah dia juga susah untuk pergi. Jika ada dua orang yang memberikan uang
kepadanya barulah ia beranjak dari kami. Dari beberapa pengemis hanya pengemis
itu yang menjadi daya tarik untuk saya ceritakan pada blog ini, karena pengemis
lain jika tidak di beri uang dan hanya mengatakan maaf mereka langsung pergi
tapi pengemis yang satu ini berbeda halnya dengan mereka, dia memaksa orang
untuk memberikan uang kepadanya.
Dan juga di hari lainnya ketika saya duduk di kantin saya melihat
dua orang nenek-nenek yang sudah lanjut usia mengemis disekitar itu. Nenek yang
satunya buta dan yang satunya lagi tidak buta, nenek yang tidak buta ini yang
menarik tangan dan mengarahkan jalan kepada si nenek buta pada saat mengemis.
Baju mereka sangat lusuh sekali, di usia
mereka seharusnya mereka dirumah mengurus cucu-cucunya tapi mereka
berdua mengemis entah itu untuk mencari uang untuk makan entah karena mereka
sudah terbiasa dengan meminta-minta. Tapi pengemis yang ini tidak begitu
memaksa ketika meminta, mereka hanya lewat dan menegedahkan tangan jika kita
menolak dengan sopan dan mengatakan maaf mereka langsung pergi. Tapi dengan
usia yang sudah renta begitu membuat orang-orang iba melihatnya.
Seharusnya kita sebagai masyarakat tumbuhkanlah pada diri kita rasa
untuk mencari uang dengan cara yang layak, tidak dengan meminta-minta atau suka
menerima dari orang lain.
Karena sesungguhnya tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan
di bawah, yang artinya memberi itu lebih baik daripada menerima. Memberi dalam
artian pada orang yang benar-benar membutuhkan uang yang kita hasilkan
tersebut, bukan kepada orang yang malas, yang tidak mau bekerja dan sudah
terbiasa menerima dari tangan orang lain atau meminta-minta, padahal kondisi
fisik sangat memungkinkan untuk memeperoleh pekerjaan yang baik dan layak, dan
juga halal.
Dan pengemis di kota ini saya lihat buka karena mereka itu miskin
atau kekurangan uang, malah uang mereka lebih banyak dari pada masyarakat pada
umumnya yang kalangan rendah dan bukan pengemis, bahkan mereka memberikan lagi
uang mereka kepada pengemis yang rata-rata sekarang mereka memilki lebih, baik
itu uang maupun gadget canggih-canggih dari pada anda-anda yang memberikan uang
kepada mereka.
Mereka pada dasarnya hanya malas untuk bekerja dan terbiasa
menerima uang dari orang lain tanpa harus bekerja berat.
Sebagai masayarakat yang peduli akan kelancaran ekonomi, dan ingin
beribadah dengan tujuan sadaqah hendaklah jangan mempedulikan pengemis dimanapun
anda berada, tahanlah rasa iba anda untuk memberikan uang kepada pengemis
supaya anda bisa lebih cermat dalam bersadaqah untuk beribadah dan tidak
membiasakan pengemis menerima uang dari anda. Dengan begitu anda sudah
melakukan perubahan dan mengurangi jumlah dari pemberi untuk pengemis dan
ajarkan itu kepada orang lain supaya jumlah pengemis di daerah kita ini
berkurang dan anda bisa lebih cermat dalam memberikan uang untuk sadaqah kepada
tempat yang memang benar-benar untuk di sadaqahkan.