Selasa, 26 April 2016


Pengamatan mengenai pengemis
Di hari saya mengikuti rapat dengan mahasiswa lain di depan AAC dayan dawood saya menjumpai seorang pengemis yang menghampiri kami ketika kami sedang mengadakan rapat tersebut.
Pengemis itu seorang laki-laki tua yang umurnya sekitar 50-an dengan membawa kertas seperti mirip proposal bisa di bilang seperti itu, menengadahkan kertas tersebut kepada kami tanpa mengucapkan kata-kata atau penjelasan.
Kemudian baju yang dia kenakan waktu itu hanya kemeja lusuh  tidak begitu rapi dan bersih, keadaan fisik dari pengemis itu juga masih normal dan terlihat sehat hanya usia saja sudah tua dan memprihatinkan.
Tapi juga tidak sepatutnya ia selalu meminta-minta disitu setiap kami mengadakan rapat. Dan anehnya cara dia meminta uang juga sedikit memaksa untuk meminta lebih, jika kami yang rapat berjumlah ramai atau ada beberapa orang, dan kami biasanya tidak begitu mempedulikan jika pengemis datang dan meminta-minta. Tetapi pengemis ini jika tidak di beri uang dia tidak akan pergi dan memasang muka marah sambil ngomel-ngomel. Dan juga jika di beri uang seribu rupiah dia juga susah untuk pergi. Jika ada dua orang yang memberikan uang kepadanya barulah ia beranjak dari kami. Dari beberapa pengemis hanya pengemis itu yang menjadi daya tarik untuk saya ceritakan pada blog ini, karena pengemis lain jika tidak di beri uang dan hanya mengatakan maaf mereka langsung pergi tapi pengemis yang satu ini berbeda halnya dengan mereka, dia memaksa orang untuk memberikan uang kepadanya.

Dan juga di hari lainnya ketika saya duduk di kantin saya melihat dua orang nenek-nenek yang sudah lanjut usia mengemis disekitar itu. Nenek yang satunya buta dan yang satunya lagi tidak buta, nenek yang tidak buta ini yang menarik tangan dan mengarahkan jalan kepada si nenek buta pada saat mengemis. Baju mereka sangat lusuh sekali, di usia  mereka seharusnya mereka dirumah mengurus cucu-cucunya tapi mereka berdua mengemis entah itu untuk mencari uang untuk makan entah karena mereka sudah terbiasa dengan meminta-minta. Tapi pengemis yang ini tidak begitu memaksa ketika meminta, mereka hanya lewat dan menegedahkan tangan jika kita menolak dengan sopan dan mengatakan maaf mereka langsung pergi. Tapi dengan usia yang sudah renta begitu membuat orang-orang iba melihatnya.
Seharusnya kita sebagai masyarakat tumbuhkanlah pada diri kita rasa untuk mencari uang dengan cara yang layak, tidak dengan meminta-minta atau suka menerima dari orang lain.
Karena sesungguhnya tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah, yang artinya memberi itu lebih baik daripada menerima. Memberi dalam artian pada orang yang benar-benar membutuhkan uang yang kita hasilkan tersebut, bukan kepada orang yang malas, yang tidak mau bekerja dan sudah terbiasa menerima dari tangan orang lain atau meminta-minta, padahal kondisi fisik sangat memungkinkan untuk memeperoleh pekerjaan yang baik dan layak, dan juga halal.
Dan pengemis di kota ini saya lihat buka karena mereka itu miskin atau kekurangan uang, malah uang mereka lebih banyak dari pada masyarakat pada umumnya yang kalangan rendah dan bukan pengemis, bahkan mereka memberikan lagi uang mereka kepada pengemis yang rata-rata sekarang mereka memilki lebih, baik itu uang maupun gadget canggih-canggih dari pada anda-anda yang memberikan uang kepada mereka.
Mereka pada dasarnya hanya malas untuk bekerja dan terbiasa menerima uang dari orang lain tanpa harus bekerja berat.
Sebagai masayarakat yang peduli akan kelancaran ekonomi, dan ingin beribadah dengan tujuan sadaqah hendaklah jangan mempedulikan pengemis dimanapun anda berada, tahanlah rasa iba anda untuk memberikan uang kepada pengemis supaya anda bisa lebih cermat dalam bersadaqah untuk beribadah dan tidak membiasakan pengemis menerima uang dari anda. Dengan begitu anda sudah melakukan perubahan dan mengurangi jumlah dari pemberi untuk pengemis dan ajarkan itu kepada orang lain supaya jumlah pengemis di daerah kita ini berkurang dan anda bisa lebih cermat dalam memberikan uang untuk sadaqah kepada tempat yang memang benar-benar untuk di sadaqahkan.

Minggu, 17 April 2016

tugas metodologi

Baiklah disini saya akan menceritakan hasil pengamatan yang saya lakukan selama beberapa hari mengenai makanan.

Makanan ini merupakan makanan yang biasa ditemui di pinggir jalan, yaitu makanan siap saji yang sering disebut dengan junk food. Saya tahu makanan yang dijual dipinggi jalan itu berbahaya karena mereka tidakmenjaga kebersihan makanan yang mereka jual. Apa lagi dijualnya dipinggir jalan, dimana sering dilewati berbagai macam kendaraan yang membuat jalanan berdebu dan debu itu sendiri membuat makanan tidak higienis. Dan juga pada saat pemprosesan kita tidak tau bagaimana mereka mengolahnya, tapi yang dapat kita lihat sendiri yaitu pada saat merekamenggorengnya.
Makanan yang saya maksud disini adalah bakso goreng. Dimana mereka menggorengnya dengan minyak yang sudah  hitam, bisa jadi itu merupakan minyak sisa kemarin yang sudah dipakai kemudian dipakai lagi untuk menggoreng dihari berikutnya.

Namun bagaimanapun juga banyak masyarakat terutama mahasiswa yang meminati makanan ini, termasuk juga saya ada didalamnya. Selagi saya mengamati saya juga mencoba makanan yang disediakan dipinggir jalan tersebut, untuk mengisi perut yang kosong sehabis pulang kuliah sangat cocok di nikmati terlebih karena di kos belum memasak jadi makanan ini bisa untuk mengganjal perut sebelum memperoleh makanan yang sesuai dan lebih bermanfaat untuk perut.

Yang saya amati disini tidak hanya cara memprosesnya saja tetapi juga kualitas dan kuantitas dari bakso goreng ini. Bakso goreng yang saya coba ini bukan merupakan bakso goreng kecil yang banyak di jual di jalanan. Selain bakso kecil itu saya penasaran unutk mencoba bakso yang ukuran a jumbo. Setelah saya coba ternyata rasa dari bakso ini berbeda dengan ukuran bakso kecil lainnya. Pada bakso ini lebih terasa dagingnya dan ada potongan daun-daun bawang juga daun supnya. Bakso ini lebih enak menurut saya dari bakso-bakso goreng yang pernah saya coba.

Saya terus menikmati bakso ini sehingga mungkin seminggu sekali saya membelinya. Saya termasuk orang yang sering membeli jajanan pinggir jalan seperti itu walaupun saya tahu bahayanya. Tapi sedikit-sedikit saya mencoba untuk menghindari makanan seperti itu terutama ketika saku mulai menipis saya lebih memilih tidak membeli barang-barang yang tidak bermanfaat. Untuk makanan saya lebih sering membeli bahan makanan dan saya masak sendiri di kos itu lebih menghemat uang yang saya miliki ketimbang saya beli makanan yang sekali makan langsung habis.

Dan dari segi kuantitasnya ternyata bakso goreng jumbo ini semakin hari di nikmati saya merasakan perbedaan ukurannya. Dimana dulunya ukuran bakso goreng itu lebih besar dan padat dan rasanya juga lebih enak karena rasa dagingnya sangat terasa. Tapi setelah beberapa hari saya mengamatinya untuk tujuan penelitian ini ukurannya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bakso gorengnya jadi sedikit lebih kecil dan tidak begitu padat, dan juga rasanya hamper sama dengan bakso goreng kecil lainnya, rasa dagingnya sudah tidak ada atau berkurang sama sekali tidak terasa. Dan itu membuat saya kecewa dan membuat selera saya untuk memakannya hilang.

Seharusnya penjual haru menjaga kualitas dan kuantitas dagangannya supaya pembelinya tidak bosan untuk membeli jajanan tersebut. Hal ini sangat berdampak terhadap pembeli yang sangat sensitive terhadap kualitas dan kuantitas suatu makanan, dimana jika rasa dan ukuran makanan tersebut berubah maka pembeli akan bberpikir dua kali untuk kembali membeli makanan tersebut. Dan ini juga faktor penyebab bagi saya untuk menghindari makanan seperti itu.

Hanya ini saja yang dapat saya ceritakan dari hasil pengamatan saya terhadap bakso goreng, selebihnya akan saya ceritakan dilain waktu. Mungkin dengan pengamatan mengenai hal lainnya. Terima Kasih…..


tugas metodologi

Baiklah disini saya akan menceritakan hasil pengamatan yang saya lakukan selama beberapa hari mengenai makanan.

Makanan ini merupakan makanan yang biasa ditemui di pinggir jalan, yaitu makanan siap saji yang sering disebut dengan junk food. Saya tahu makanan yang dijual dipinggi jalan itu berbahaya karena mereka tidakmenjaga kebersihan makanan yang mereka jual. Apa lagi dijualnya dipinggir jalan, dimana sering dilewati berbagai macam kendaraan yang membuat jalanan berdebu dan debu itu sendiri membuat makanan tidak higienis. Dan juga pada saat pemprosesan kita tidak tau bagaimana mereka mengolahnya, tapi yang dapat kita lihat sendiri yaitu pada saat merekamenggorengnya.
Makanan yang saya maksud disini adalah bakso goreng. Dimana mereka menggorengnya dengan minyak yang sudah  hitam, bisa jadi itu merupakan minyak sisa kemarin yang sudah dipakai kemudian dipakai lagi untuk menggoreng dihari berikutnya.

Namun bagaimanapun juga banyak masyarakat terutama mahasiswa yang meminati makanan ini, termasuk juga saya ada didalamnya. Selagi saya mengamati saya juga mencoba makanan yang disediakan dipinggir jalan tersebut, untuk mengisi perut yang kosong sehabis pulang kuliah sangat cocok di nikmati terlebih karena di kos belum memasak jadi makanan ini bisa untuk mengganjal perut sebelum memperoleh makanan yang sesuai dan lebih bermanfaat untuk perut.

Yang saya amati disini tidak hanya cara memprosesnya saja tetapi juga kualitas dan kuantitas dari bakso goreng ini. Bakso goreng yang saya coba ini bukan merupakan bakso goreng kecil yang banyak di jual di jalanan. Selain bakso kecil itu saya penasaran unutk mencoba bakso yang ukuran a jumbo. Setelah saya coba ternyata rasa dari bakso ini berbeda dengan ukuran bakso kecil lainnya. Pada bakso ini lebih terasa dagingnya dan ada potongan daun-daun bawang juga daun supnya. Bakso ini lebih enak menurut saya dari bakso-bakso goreng yang pernah saya coba.

Saya terus menikmati bakso ini sehingga mungkin seminggu sekali saya membelinya. Saya termasuk orang yang sering membeli jajanan pinggir jalan seperti itu walaupun saya tahu bahayanya. Tapi sedikit-sedikit saya mencoba untuk menghindari makanan seperti itu terutama ketika saku mulai menipis saya lebih memilih tidak membeli barang-barang yang tidak bermanfaat. Untuk makanan saya lebih sering membeli bahan makanan dan saya masak sendiri di kos itu lebih menghemat uang yang saya miliki ketimbang saya beli makanan yang sekali makan langsung habis.

Dan dari segi kuantitasnya ternyata bakso goreng jumbo ini semakin hari di nikmati saya merasakan perbedaan ukurannya. Dimana dulunya ukuran bakso goreng itu lebih besar dan padat dan rasanya juga lebih enak karena rasa dagingnya sangat terasa. Tapi setelah beberapa hari saya mengamatinya untuk tujuan penelitian ini ukurannya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bakso gorengnya jadi sedikit lebih kecil dan tidak begitu padat, dan juga rasanya hamper sama dengan bakso goreng kecil lainnya, rasa dagingnya sudah tidak ada atau berkurang sama sekali tidak terasa. Dan itu membuat saya kecewa dan membuat selera saya untuk memakannya hilang.

Seharusnya penjual haru menjaga kualitas dan kuantitas dagangannya supaya pembelinya tidak bosan untuk membeli jajanan tersebut. Hal ini sangat berdampak terhadap pembeli yang sangat sensitive terhadap kualitas dan kuantitas suatu makanan, dimana jika rasa dan ukuran makanan tersebut berubah maka pembeli akan bberpikir dua kali untuk kembali membeli makanan tersebut. Dan ini juga faktor penyebab bagi saya untuk menghindari makanan seperti itu.

Hanya ini saja yang dapat saya ceritakan dari hasil pengamatan saya terhadap bakso goreng, selebihnya akan saya ceritakan dilain waktu. Mungkin dengan pengamatan mengenai hal lainnya. Terima Kasih…..


tugas metodologi

Baiklah disini saya akan menceritakan hasil pengamatan yang saya lakukan selama beberapa hari mengenai makanan.

Makanan ini merupakan makanan yang biasa ditemui di pinggir jalan, yaitu makanan siap saji yang sering disebut dengan junk food. Saya tahu makanan yang dijual dipinggi jalan itu berbahaya karena mereka tidakmenjaga kebersihan makanan yang mereka jual. Apa lagi dijualnya dipinggir jalan, dimana sering dilewati berbagai macam kendaraan yang membuat jalanan berdebu dan debu itu sendiri membuat makanan tidak higienis. Dan juga pada saat pemprosesan kita tidak tau bagaimana mereka mengolahnya, tapi yang dapat kita lihat sendiri yaitu pada saat merekamenggorengnya.
Makanan yang saya maksud disini adalah bakso goreng. Dimana mereka menggorengnya dengan minyak yang sudah  hitam, bisa jadi itu merupakan minyak sisa kemarin yang sudah dipakai kemudian dipakai lagi untuk menggoreng dihari berikutnya.

Namun bagaimanapun juga banyak masyarakat terutama mahasiswa yang meminati makanan ini, termasuk juga saya ada didalamnya. Selagi saya mengamati saya juga mencoba makanan yang disediakan dipinggir jalan tersebut, untuk mengisi perut yang kosong sehabis pulang kuliah sangat cocok di nikmati terlebih karena di kos belum memasak jadi makanan ini bisa untuk mengganjal perut sebelum memperoleh makanan yang sesuai dan lebih bermanfaat untuk perut.

Yang saya amati disini tidak hanya cara memprosesnya saja tetapi juga kualitas dan kuantitas dari bakso goreng ini. Bakso goreng yang saya coba ini bukan merupakan bakso goreng kecil yang banyak di jual di jalanan. Selain bakso kecil itu saya penasaran unutk mencoba bakso yang ukuran a jumbo. Setelah saya coba ternyata rasa dari bakso ini berbeda dengan ukuran bakso kecil lainnya. Pada bakso ini lebih terasa dagingnya dan ada potongan daun-daun bawang juga daun supnya. Bakso ini lebih enak menurut saya dari bakso-bakso goreng yang pernah saya coba.

Saya terus menikmati bakso ini sehingga mungkin seminggu sekali saya membelinya. Saya termasuk orang yang sering membeli jajanan pinggir jalan seperti itu walaupun saya tahu bahayanya. Tapi sedikit-sedikit saya mencoba untuk menghindari makanan seperti itu terutama ketika saku mulai menipis saya lebih memilih tidak membeli barang-barang yang tidak bermanfaat. Untuk makanan saya lebih sering membeli bahan makanan dan saya masak sendiri di kos itu lebih menghemat uang yang saya miliki ketimbang saya beli makanan yang sekali makan langsung habis.

Dan dari segi kuantitasnya ternyata bakso goreng jumbo ini semakin hari di nikmati saya merasakan perbedaan ukurannya. Dimana dulunya ukuran bakso goreng itu lebih besar dan padat dan rasanya juga lebih enak karena rasa dagingnya sangat terasa. Tapi setelah beberapa hari saya mengamatinya untuk tujuan penelitian ini ukurannya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bakso gorengnya jadi sedikit lebih kecil dan tidak begitu padat, dan juga rasanya hamper sama dengan bakso goreng kecil lainnya, rasa dagingnya sudah tidak ada atau berkurang sama sekali tidak terasa. Dan itu membuat saya kecewa dan membuat selera saya untuk memakannya hilang.

Seharusnya penjual haru menjaga kualitas dan kuantitas dagangannya supaya pembelinya tidak bosan untuk membeli jajanan tersebut. Hal ini sangat berdampak terhadap pembeli yang sangat sensitive terhadap kualitas dan kuantitas suatu makanan, dimana jika rasa dan ukuran makanan tersebut berubah maka pembeli akan bberpikir dua kali untuk kembali membeli makanan tersebut. Dan ini juga faktor penyebab bagi saya untuk menghindari makanan seperti itu.

Hanya ini saja yang dapat saya ceritakan dari hasil pengamatan saya terhadap bakso goreng, selebihnya akan saya ceritakan dilain waktu. Mungkin dengan pengamatan mengenai hal lainnya. Terima Kasih…..