Baiklah
disini saya akan menceritakan hasil pengamatan yang saya lakukan selama
beberapa hari mengenai makanan.
Makanan ini
merupakan makanan yang biasa ditemui di pinggir jalan, yaitu makanan siap saji
yang sering disebut dengan junk food. Saya tahu makanan yang dijual dipinggi
jalan itu berbahaya karena mereka tidakmenjaga kebersihan makanan yang mereka
jual. Apa lagi dijualnya dipinggir jalan, dimana sering dilewati berbagai macam
kendaraan yang membuat jalanan berdebu dan debu itu sendiri membuat makanan
tidak higienis. Dan juga pada saat pemprosesan kita tidak tau bagaimana mereka
mengolahnya, tapi yang dapat kita lihat sendiri yaitu pada saat
merekamenggorengnya.
Makanan
yang saya maksud disini adalah bakso goreng. Dimana mereka menggorengnya dengan
minyak yang sudah hitam, bisa jadi itu
merupakan minyak sisa kemarin yang sudah dipakai kemudian dipakai lagi untuk
menggoreng dihari berikutnya.
Namun
bagaimanapun juga banyak masyarakat terutama mahasiswa yang meminati makanan
ini, termasuk juga saya ada didalamnya. Selagi saya mengamati saya juga mencoba
makanan yang disediakan dipinggir jalan tersebut, untuk mengisi perut yang
kosong sehabis pulang kuliah sangat cocok di nikmati terlebih karena di kos
belum memasak jadi makanan ini bisa untuk mengganjal perut sebelum memperoleh
makanan yang sesuai dan lebih bermanfaat untuk perut.
Yang saya
amati disini tidak hanya cara memprosesnya saja tetapi juga kualitas dan
kuantitas dari bakso goreng ini. Bakso goreng yang saya coba ini bukan
merupakan bakso goreng kecil yang banyak di jual di jalanan. Selain bakso kecil
itu saya penasaran unutk mencoba bakso yang ukuran a jumbo. Setelah saya coba
ternyata rasa dari bakso ini berbeda dengan ukuran bakso kecil lainnya. Pada
bakso ini lebih terasa dagingnya dan ada potongan daun-daun bawang juga daun
supnya. Bakso ini lebih enak menurut saya dari bakso-bakso goreng yang pernah
saya coba.
Saya terus
menikmati bakso ini sehingga mungkin seminggu sekali saya membelinya. Saya
termasuk orang yang sering membeli jajanan pinggir jalan seperti itu walaupun
saya tahu bahayanya. Tapi sedikit-sedikit saya mencoba untuk menghindari
makanan seperti itu terutama ketika saku mulai menipis saya lebih memilih tidak
membeli barang-barang yang tidak bermanfaat. Untuk makanan saya lebih sering
membeli bahan makanan dan saya masak sendiri di kos itu lebih menghemat uang
yang saya miliki ketimbang saya beli makanan yang sekali makan langsung habis.
Dan dari
segi kuantitasnya ternyata bakso goreng jumbo ini semakin hari di nikmati saya
merasakan perbedaan ukurannya. Dimana dulunya ukuran bakso goreng itu lebih
besar dan padat dan rasanya juga lebih enak karena rasa dagingnya sangat
terasa. Tapi setelah beberapa hari saya mengamatinya untuk tujuan penelitian
ini ukurannya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bakso gorengnya jadi
sedikit lebih kecil dan tidak begitu padat, dan juga rasanya hamper sama dengan
bakso goreng kecil lainnya, rasa dagingnya sudah tidak ada atau berkurang sama
sekali tidak terasa. Dan itu membuat saya kecewa dan membuat selera saya untuk
memakannya hilang.
Seharusnya
penjual haru menjaga kualitas dan kuantitas dagangannya supaya pembelinya tidak
bosan untuk membeli jajanan tersebut. Hal ini sangat berdampak terhadap pembeli
yang sangat sensitive terhadap kualitas dan kuantitas suatu makanan, dimana
jika rasa dan ukuran makanan tersebut berubah maka pembeli akan bberpikir dua
kali untuk kembali membeli makanan tersebut. Dan ini juga faktor penyebab bagi
saya untuk menghindari makanan seperti itu.
Hanya ini
saja yang dapat saya ceritakan dari hasil pengamatan saya terhadap bakso goreng,
selebihnya akan saya ceritakan dilain waktu. Mungkin dengan pengamatan mengenai
hal lainnya. Terima Kasih…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar